05 Maret, 2009

Hadits Empat Puluh

oleh: Mirza Bashir Ahmad MA

Pendahuluan.


Entah apa sebab-sebabnya, tetapi inilah satu kenyataan bahwa dari masa kanak-kanak saya mempunyai semacam kecenderungan alami kepada Ilmu Hadits. Apabila saya baca suatu hadits, saya merasa seolah-olah ikut hadir dalam majelis Rasulullah saw tersebut dan seolah ikut mendengarkan sendiri sabda-sabda beliau saw. maka pikiranku membawa aku ke 1400 tahun kebelakang ke dalam Mesjidil Haram di Mekkah Mukarramah, dan Mesjid Nabawi di Madinah Tayyibah, begitu pula saya merasa hadir dilorong-lorong dikedua negeri yang berbahagia itu dan di jalan-jalan di padang pasir tanah Arab itu untuk ikut mengecap kenikmatan dalam lingkungan pergaulan rohani dari Rasulullah saw., seakan-akan saya berjumpa dengan beliau saw, dan kemudia saya merasa lepas dari dunia ini, dan mulai bernafas dalam suasana yang dialami oleh Junjunganku yang tercinta Yang Mulia Nabi Muhammad saw. selama 23 tahun yang berbahagia pada kenabian yang amat agung diantara anugrah Allah swt.
Ada sebuah hadits yang terasa menimbulkan bekas yang dalam di hati dan otak saya, ialah sebuah sabda Rasulullah saw, yang tidak bermakna fiqh atau ilmu kalam, hanya diperasaan saya dalam hadits ini terkandung inti sari ajaran islam dan ilmu rohaniah. Dirwayatkan demikian bahwa, pada sekali peristiwa datanglah seorang muslim yang miskin bertemu Rasulullah saw, yang tidak kelihatan tanda ahli ibadah pada wajahnya, namun dalam hatinya rupanya ia mempunya kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah saw sebagai pelita yang telah membimbingnya. Terdorong oleh rasa cintanya kepada utusanNya, dengan rasa takut dan gemetar ia maju bertanya : Ya Rasulullah, kapankah qiamat akan datang ?. Beliau saw. mendengar hal itu, balik berkata: Kamu menanyakan tentang qiamat, sudahkah kamu mengadakan persiapan untuk itu?, dengan hati yang berdebar-debar dengan bibir yang gemetar ia menjawab: iya Yang Mulia, bukankan sholat dan puasa sudah cukup untuk persediaan?, hanya saja dalam hatiku kecintaan kepada Allah dan RasulNya terasa sudah memadai. Beliau saw. melihat kepadanya dengan rasa kasih sayang, dan bersabda:” Al mar’u ma’a man ahabba “. Yakni tentramkanlah hatimu, karena Allah yang penyayang tidak akan memisahkan seseorang dari pada yang dicintainya itu.
Hadits tersebut saya baca waktu saya masih anak-anak, tetapi sampai saya umur tua ini, perkataan dari Yang Mulia saw. tersebut senantiasa terbayang dimata laksana bintang kutub. Saya selalu merasakan seolah-olah sayalah yang bertanya tersebut kehadapan Yang Mulia saw. dan jawaban tersebutpun beliau saw. berikan kepada saya juga, sesudah itu saya tidak pernah lupa akan bagian rahasia ini, bahwa sekalipun sholat, puasa, hajji, dan zakat wajib mesti dikerjakan, tetapi cahaya bathin dan kemabukan akan rohaniah tidak dapat diperoleh selain dari jalan kecintaan sejati kepada Allah dan Rasul-Nya. Bila manusia telah memperoleh karunia ini kemudian amal-amal yang nampak terisi dengan jiwa kehidupan mengejar kepada hal ini. Tetapi kalau manusia belum mendapat karunia ini, maka amal perbuatannya tidak melebihi suatu bangkai, yang hanya dipuji-puji oleh–oleh orang yang memegang zahir saja. Allah swt mengetahui, bahwa haruslah didasari mengikuti dorongan kecintaan kepada Rasulullah saw. Karena inilah saya telah menulis risalah ini, semoga dikabulkan Oleh Allah swt seri kecintaan kepada Rasulullah saw. ini tumbuh didalam hati sanubari orang-orang yang membaca tulisan ini, yang adalah ruh dari pada setiap amal dan jiwa daripada akhlak. Semoga mereka akan mendengarkan sabda junjungan kami yang tercinta ini dengan kegembiraan dan dengan hati yang senang dan menjadi penawar bagi jiwa mereka. Dan semoga menjadi anugrah, magfirah, dan syafaat dari Rasulullah saw bagi diri saya. Amin yaa Arhama Raahimiin.



Penjelasan tentang Hadits

Hadits adalah perkataan bahasa Arab yang artinya, sesuatu perkataan baru, yang sama sekali baru, atau disampaikannya dengan cara yang baru.
Karena sabda-sabda Rasulullah saw. mengandung hikmah-hikmah dan rahasia-rahasia yang baru dan sangat berharga sehingga menurut istilah bahasa dinamakan Hadits. Dan menurut maknanya Hadits itu adalah nama yang diberikan kepada sabda-sabda dari Rasulullah saw atau suatu kejadian dari kehidupan Rasulullah saw. yang disaksikan oleh beliau saw sendiri kemudian dengan perantaraan para sahabah beliau saw. dengan cara dihapalkannya dan kemudian dituliskan oleh orang-orang islam yang ahli riwayat setelah itu.
Mengenai Hadits para ahli hadits telah menetapkan aturan-aturan yang memudahkan untuk membedakan diantara Hadits-hadits yang sahih dan yang kurang shahih.
Cara timbulnya hadits, setelah salah satu atau beberapa sahabah mendengar sabda Rasulullah saw mereka sampaikan ucapan itu kepada orang-orang yang belum mendengar sendiri atau belum menyaksikan sendiri, untuk menyebarkan ajaran atau pendidikan islam.
Orang yang meriwayatkan Hadits itu atau disebut juga perawi terbagi dalam beberapa golongan :
1. Mereka yang langsung menyaksikan satu pekerjaan dengan mata kepala sendiri, orang itu disebut sahabi atau sahabat.
2. Mereka yang mendengar dari para Sahabat itu dan kemudian hal itu dikabarkan lagi kepada orang lain, orang itu disebut Tabi’i.
3. Mereka yang menyampaikan hal-hal yang telah didengarnya dari Tabi’I disebut taba’a – tabi’i.
4. Mereka yang sesudah itu adalah rawi-rawi umum
Demikian pula para perawi ini digolongkan dari kekuatan hafalan, pengertian, dan kejujuran para perawi itu juga berlain-lainan. Hadits-hadits itu umumnya setelah dikumpulkan oleh para ahli hadits kemudian dijadikan kitab yang umumnya terkumpul dimasa pertengahan abad ke-2 sampai akhir abad ke-3 H. Diantara Kitab hadits yang paling sah dan kuat ada 6 buah Kitab Hadits yang biasanya disebut SIHAH SITTAH = enam buah kitab yang sahih.

Kitab-kitab Hadits antara lain:

a. Kitab Hadits Shahih Bukhari.
Kitab hadits ini disusun oleh Hadhrat Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari ra. Lahir pada hari Jum’at tgl 13 syawal 194 H atau sesuai dengan tgl 21 Juli 810 M. Beliau wafat pada usia 62 thn pada tahun 256 H atau tgl 31 Agustus 807 M. Beliau menulis semua hadits-hadits itu sewaktu beliau berada di Madinah, Karya kitab beliau ini aslinya tersimpan di St Sovia Library, selain beliau mengumpulkan hadits, juga ada menulis Tafsir Al-qur’an.

Beliau berasal dari daerah Bukhari keturunan Bagsa Iran. Pada usia 16 tahun beliau mengikuti ibunya serta saudaranya naik Hajji, sejak itu beliau tinggal dia Mekkah untuk memperdalam ilmunya, beliau terkenal cerdas sekali hal ini dapat diketahui banyaknya hadits yang beliau hafal, lebih kurang 600.000. hadits, dari sejumlah itu hadits yang beliau hafalkan itu, beliau adakan penyelidikan yang lebih teliti dan memilih lebih kurang 4000 riwayat hadits untuk menjadi karangan beliau, diantaranya 2761 riwayat dari sahabat Rasulullah saw, yang dinamakan riwayat Mausul, yaitu bukti-bukti tentang hadits itu sampai kepada Rasulullah saw. Untuk pekerjaan yang penting dan dalam ini beliau beliau bekerja siang malam selama 16 tahun. Dan setelah penyelidikan yang seksama dan cermat bahwa riwayat ini adalah sah, maka beliau mengerjakan sahalat 2 rakaat dan membaca do’a istikharah kemudian baru riwayat hadits tadi dipilih untuk dimasukkan dalam kitab beliau, beliau mempunyai seorang juru tulis yang bernama Hadhrat Muhammad bin Hatib. Hadits Bukhari ini dibagi dalam 97 kitab yang kemudian dibagi dalam 340 bab. Kitab shahih Bukhari ini terkenal juga dengan nama Ashshaha alkutubi ba’da kitabillah, atau kitab yang paling shohih sesudah Kitab Al-qur’an.

Diriwayatkan bahwa Khalid bin Ahmad, Gubernur Khurazan, pada satu kali minta kepada beliau untuk datang kepadanya untuk mengajarkan Hadits, tetapi Imam Bukhari menjawab, bahwa jika Tuan hendak belajar sesuatu hendaknya Tuan datang ketempat saya, karena saya tidak mau menghina kepada Ilmu. Gubernur itu kemudian mengasingkan beliau dari Kata Bukhara, kesebuah dusun bernama Kharteng dekat dari kata Samarkand.

b. Kitab Hadits Shahih Muslim.
Kitab hadits ini disusun oleh Hadhrat Imam Muslim bin Alhajaj Alnausyafuri. Beliau lahir di kota Naisyafur daerah Khurazan di Turkistan Barat, yang dulu termasuk wilayah Soviet, pada tahun 204 H dan wafat pada tahun 261 H. Kitab Hadits muslim ini dianggap hadits nomor dua sesudah Bukhari. Dan bersama Kitab Hadits Bukhari sering disebut Shahihiyain, atau dua kitab hadits yang shahih. Beliau menyusun hadits ini dengan rajin dan susah payah. Beliau mengunjungi kota Baghdad tempat khalifah-khalifat dimasa itu. Dan terakhir juga beliau diasingkan dari Baghdad.

c. Kitab Hadits Jami’ Tirmidzi.
Kitab hadis ini disusun oleh Hadhrat Imam Abu Isa Muhammad bin Isa Al-Tirmidzi ra. Lahir di kota Bush dekat Kota Tirmidz, sebuah kota kecil di Pusat Asia, pada tahun 209 H dan wafat pada tahun 279 H, Beliau ini adalah salah seorang murid dari Imam Bukhari.

d. Kitab Hadits Sunan Abu Daud.
Kitab Hadits ini disusun oleh Hadhrat Imam Abu Daud Sulaiman bin Al Asy’ats Al Sanjastani ra. Lahir di Kampung Suyistan dan wafat di Basrah. (thn 202 H – 275 H) Beliau sangat ahli dalam bidang fiqh.

e. Kitab Hadits Sunan Nasai.
Kitab ini disusun oleh Hadhrat Imam Ahmad bin Syu’aib Annasai, lahir di Naza. Khurazan (Iran) tahun 215 H dan wafat thun 306H.


f. Kitab Hadits Sunan Ibnu Maja.
Kitab hadits ini disusun oleh Hadhrat Imam Muhammad bin Yazid ibnu Majah Al quzuwini ra. lahir di daerah Qartun (Iran ) pada tahun 209H dan wafat tahun 273 H.


Selain dari Enam buah kitab hadits tersebut diatas ada dua hadits lagi yang juga cukup terkenal.

a. Kitab Hadits Muwattah Imam Malik

Kitab hadits ini disusun oleh Hadhrat Imam Maliki bin Annas Al Madni ra. lahir di Madinah pada tahun 93 H. dan wafat pada tahun 179 H.dalam usia 86 tahun. Selain sebagai imam dalam ilmu hadits beliau juga imam dalam ilmu fiqh, beliau termasuk empat imam fiqh yang terkenal itu. Beliau mempunyai lebih dari 1300 murid, yang ternama antara lain, Hadhrat Imam Abu Hanifah, Hadhrat Imam Syafii, Hadhrat Imam Muhammad, dan semua ulama-ulama yang ternama yang menjadi guru dari pada Hadhrat Imam Ahmad bin Hambal, Hadhrat Imam Bukhari, Hadhrat Imam Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasai ra. Semuanya itu adalah murid dari Hadhrat Imam Malik bin Annas ra. Atas permintaan Raja Harun Ar Rasyid, beliau suatu kali diminta untuk datang ketempat beliau, untuk mengajar putera-putera beliau tentang Hadits, Hadhrat Imam malik mengatakan : Wahai amirul mukminin! Allah swt telah memberi kebesaran kepada Tuan, pembinaan ilmu hadits yang dimulai oleh orang-orang yang sangat mulia, akan mendapat penghargaan tinggi kalau orang-orang seperti tuan akan menghormati ilmu itu. Kalau tidak demikian saya khawatir akan turun kehormatannya ( ilmu itu). Orang mencari ilmu tetapi ilmu tidak mengejar kepada orang-orang yang mencarinya. Raja segera mengerti yang dimaksud oleh beliau, dan memberi perintah kepada para putra beliau supaya pergi ketempat belajar bersama murid-murid yang lain dimesjid.
Dalam Buku Hadits Muwattah Imam Malik ini ada 1700 riwayat hadits. Dan merupakan Kitab hadits yang paling pertama disusun.

b. Kitab Hadits Musnad Imam Ahmad bin Hambal

Kitab Hadits ini disusun oleh Hadhrat Imam Ahmad bin Hambal Al Baghdadi, lahir di Baghdad tahun 164 H / Nopember 780 M, dan wafat dalam usia 77 th, pada tahub 241H / Juli 855. Beliau juga selain sebagai imam dalam ilmu Hadits juga sebagai imam dalam Ilmu fiqh. Hadhrat Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, semuanya adalah murid beliau. Selain dari dua Imam fiqh ini ya’ni Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hambal adalagi dua imam fiqh yang ternama : Imam Abu Hanifah ( lahir 80 H, wafat 150H, ) dan Imam Syafii (lahir 105 H , wafat 204 H ) . Dan menurut banyaknya pengikut-pengikut dan juga menurut dasar-dasar dalam fiqhnya Imam Abu Hanifah yang disebut sebagai Imam A’zam, mempunyai derajat dalam Fiqh lebih tinggi dari semua Imam-imam fiqh yang lain. Imam Abu Hanifah mencurahkan perhatiannya lebih besar kepada menyusun dan memperdalam Ilmu fiqh, tetapi Imam Syafii juga menyusun hadits-hadits dalam sebuah kitab yang bernama Kitabul Am yang sangat terkenal.

Semua orang-orang mulia yang disebutkan diatas tadi itu, dengan susah payah beliau-beliau untuk menyelidiki, memilih dan mengumpulkan ribuan hadits-hadits yang shahih. Ummat islam sungguh berutang budi kepada pahlawan-pahlawan islam itu. Beliau semuanya adalah tiang islam, karena usaha-usaha merekalah kita dapat mengikuti sabda Nabi Muhammad saw. Semoga Allah membalas mereka dengan ganjaran yang sebaik-baiknya.

Al-qur’an dan Hadits

Al-qur’an adalah firman Allah dan Hadits adalah perkataan Nabi Muhammad saw. Didalam Al-qur’an tidak ada sedikitpun yang meragu-ragukan tentang kebenarannya.Rasulullah saw pernah bersabda : Kamu akan banyak menemui hadits-hadits sesudah saya, maka ujilah hadits-hadits itu dengan Al-qur’an, jika ada yang sesuai dengan Al-qur’an terimalah itu dan yang tidak sesuai tolaklah.” Jadi apabila menemukan hadits yang bertentangan dengan Al-qur’an, maka itu bukan perkataan Rasulullah saw, yang sebenarnya dan tidak boleh diikuti.
Didalam Al-qur’an Allah ta’ala mengatakan, bahwa apa yang diberi oleh Nabi Muhammad saw, peganglah dengan teguh dan apa yang dilarang olehnya jangan mendekatinya. Pada satu tempat lain Al-Qur’an menerangkan: Rasulullah saw tidak mengatakan sesuatu dengan kemauannya sendiri, melaingkan yang diwahyukan kepadanya.”(61:34)

Sunnah dan Hadits

Sunnah adalah kebiasaan perlakuan dan perbuatan Rasulullah saw, yang Beliau saw mengerjakan dalam suatu urusan agama dan dibawah pengawasan beliau saw sendiri dan sahabat-sahabat pun dibiasakan melakukan yang sama, kemudian demikian seterusnya contoh-contoh amal, kebiasaan, itu diteruskan kepada orang-orang kemudian setelah mereka itu. Misalnya tentang sholat, Beliau saw. menurut wahyu dari Allah swt atau dengan cahaya Kenabian beliau saw, beliau saw. mengemukakan contoh amalan dan perintah sholat kemudian diikuti oleh para sahabat dibawah pengawasan beliau saw. sendiri, kemudia para sahabat itu mewariskan contoh amal mereka kepada tabiin dari tabiin kepada tabaah tabiin melalui contoh pula, demikianlah berentetan sambung-menyambung dan seterusnya.
Sedangkan Hadits perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan Rasulullah saw. yang diterangkan oleh para perawi dengan cara menyampaikan kepada orang yang sesudahnya, kemudian setelah seratus atau seratus limapuluh tahun riwayat itu tersambung dan tersimpan dalam ingatan para perawi kemudian dikumpulkan dalam tulisan-tulisan dan buku-buku. Sebenarnya Sunnah itu adalah sebagai jiwa dari Syariat islam.

Didalam Hadits Bukhari kita membaca, “Rasulullah saw bersabda : Barang siapa yang meninggalkan sunnahku maka ia bukan dari saya.” Didalam Al qur’an banyak perintah yang tidak dapat ditaati dengan penuh, kalau tidak mengikuti kepada sunnah Rasulullah saw. Misalnya di dalam Al-qur’an ada perintah mengenai sholat, tetapi berapa banyak rakaat sholat itu kita belajar dari sunnah Rasulullah saw. sehingga Sunnah berlainan dengan Hadits, jadi sesudah Al-qur’an adalah Sunnah dan kemudian Hadits yang harus diikuti oleh orang-orang islam.

Dalam salah satu Hadits Shahih diterangkan bahwa ummat islam akan terpecah belah dalam 73 golongan, dan yang benar, oleh Rasulullah saw. dikatakan yang benar dalam sepak terjang dan perbuatannya menjadi gambaran dari Rasulullah saw dan para sahabatnya, seperti “sabda Rasulullah saw. : Ma anaa ‘alaihi wa ashabii.”, diantara 73 golongan yang benar ialah yang memegang kepada cara dan perilaku Rasulullah saw dan sahabat beliau. Jelas dari perkataan Rasulullah saw ini, bahwa sangat penting mengikuti kepada Sunnah.

Maka dari itu menjalankan Sholat Sunnah bersama-sama dengan Sholat Wajib adalah sangat penting. “Hadhrat Imam Malik bersabda : Barang siapa mudah meninggalkan sholat sunnah, maka mudah pula ia meninggalkan yang wajib juga.” Sebenarnya sholat baru dikatakan sempurna kalau disertai sholat sunnah juga. Barang siapa yang tidak mengerjakan sholat sunnah bagaimana dia dapat mengatkan bahwa dia mengikuti kepada cara dan perilaku Rasulullah saw.

Jenis-jenis Hadits.

Para ahli Ilmu Hadits telah membagi hadits dalam beberapa jenis:

1. Hadits Qauli. Ialah Hadits mana yang disampaikan perkataan dari mulut Rasulullah saw sendiri, misalnya didalamnya dikatakan oleh para sahabat, bahwa Rasulullah saw berkata dalam kesempatan itu sebagai berikut,…….. .
2. Hadits Fi’il. Ialah Hadits yang disampaikan bukan perkataan, tetapi pekerjaanya Rasulullah saw. misalnya dituliskan bahwa Rasulullah saw pada waktu demikian mengerjakan begini………… dsb.
3. Hadits Taqriri. Kata taqriri berarti menetapkan atau mengambil jalan tengah sesuatu hal, maka hadits taqriri ialah hadits dimana tidak diterangkan satu persatu perkataan dan pekerjaan, tetapi hanya diterangkan mengenai perkataan dan pekerjaan salah seorang sahabat di depan Rasulullah dan Rasulullah saw tidak melarang kepada orang itu dari perkataan atau perbuatannya itu.
4. Hadits Qudsi. Ialah dimana didalam salah satu hadits diterangkan bahwa Rasulullah saw bersabda bahwasanya Allah swt yang memberi wahyu kepada beliau saw demikian :……….., sebagai wahyu yang tidak ada dalam Al-qur’an.
5. Hadits Marfu’u ialah suatu hadits yang silsilah rawi-rawinya terus sambung menyambung sampai kepada Rasulullah saw dan menerangkan suatu hal yang langsung sampai kepada Rasulullah saw, misalnya ditulis, bahwa pada suatu ketika Rasulullah saw bersabda demikian…………..
6. Hadits Mauquf, ialah suatu hadits yang silsilah rawinya tadak sampai kepada Rasulullah saw melaingkan hanya terhenti sampai kepada sahabat saja, akan tetapi sifat hadits itu dan cara menceritakannnya sahabat itu bahwa hadits itu pernah didengar dari Rasulullah saw.
7. Hadits Mutasil, ialah suatu hadits yang seluruh rawi-rawinya diterangkan dengan lengkap dan teratur sehingga tidak ada satu rawipun yang ditinggalkan dari tengah-tengah rawi itu.
8. Hadits Muqath’I ialah suatu hadits yang salah satu rawinya tidak tersebut dalam hadits itu, sehingga susah ditetapkan betul atau tidaknya hadits itu.
9. Hadits Shahih. Ialah hadits yang semua rawinya dari sudut kekuatan hapalan, pengertian dan kejujuran dapat dipercaya. Dengan penyelidikan yang seksama dari para ahli Hadits akan ternyata bahwa ketiga sifat tersebut diatas ada pada perawinya.
10. Hadits Dho’if, ialah suatu hadits yang perawinya menurut kekuatan hapalan atau pengertian atau kejujuran tidak dapat dipercaya, sihingga kalau ada salah satu rawi saja yang tidak dapat dipercaya, meskipun rawi-rawinya yang lain dapat dipercaya.
11. Hadits Maudu’, ialah suatu hadits yang ternyata telah diterangkan oleh seorang rawi yang pembohong setelah dibuatnya sendiri.
12. Atsar, ialah suatu riwayat yang hanya mengandung perkataan-perkataan dari seorang sahabi saja dan tidak ada suatu sabda yang dimaksudkan dari Rasulullah saw. jadi ini tidak termasuk jenis hadits, namun kadang oleh para terpelajar dimasukkan juga.


Setelah kata pendahuluan diatas, kami rasa mendapat kebahagiaan untuk memilih dan menerangkan 40 hadits dari Yang Mulia Nabi Muhammad saw dalam tulisan ini. Hadits-hadits ini diambil dari kitab hadits yang shahih. Tiap-tiap hadits disini diterangkan dengan terjemahan dan juga penjelasannya dengan ringkas. Kami harap semoga orang-orang islam laki-laki dan perempuan dapat menghafalkan 40 hadits ini serta akan mencamkan pula artinya untuk beramal menurut hadits ini dan mengambil mamfaatnya, kemudian insyaallah hal ini akan menyebabkan magfirah ( ampunan ) rahmat dan berkat bagi diri mereka dan rumah tangga mereka. Sengaja dipilih 40 hadits banyaknya, karena angka 40 dalam Alqur’an disebutkan sebagai tanda kesempurnaan dan juga dalam satu hadits Rasulullah saw. bersabda :

Artinya: Barang siapa untuk kebahagiaan dan perbaikan ummatku akan menyimpan/menghafalkan 40 haditsku (sekurang-kurangnya) Allah swt akan membangkitkan kepadanya pada hari kiamat sebagai seorang ‘alim agama dan fiqh dan saya akan memohon syafaat baginya dan akan menjadi saksi untuk imannya dihadapan Allah swt.
Kami akhiri kata pendahuluan ini dan selanjutnya akan diterangkan dalam buku ini 40 Hadits pilihan kami sendiri, dengan diiringi dengan do’a dihadapan Allah swt semoga kumpulan Hadits ini akan menyebabkan karunia, rahmat, berkat dan magfirah bagi kami sendiri, begitru pula bagi orang-orang yang mempelajarinya. Amiin ya arhama raahimiin




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.